Pages

Subscribe:

Friday, March 15, 2013

Pelangi Sehabis Hujan - Chapter 2

Sesampainya di kantin, Jaydan melihat ke sekeliling kantin. Dia mencari bangku kosong yang menghadap ke arah taman. Dia melangkahkan kaki menuju meja tersebut.
Sangat sulit untuk mendengar di dalam kafetaria karena bising dan AC menyala cuma sudah tidak dingin lagi.. Tercium bau yang menyengat dari makanan yang digoreng dan kulit yang berkeringat di udara.

Let the world
Stop turning
You don't have to do this alone
Cause I'm right here
I'm right here standing by you
You don't have to do this alone
Cause I'm right here
I'm right here
Always for you, you
I'm right here standing by you
I'm standing by you.

Lagu dari Boyzone yang berjudul "Right Here Waiting" berkumandang memenuhi kantin. Lagu ini menggambarkan suasana hati Jaydan belakangan ini, lagu tersebut membuat pikiran Jaydan melayang ke beberapa tahun silam. Selama tiga tahun ini , Jaydan memendam rasa sukanya kepada Gabriella. Semua perasaan itu datang dari suatu kebersamaan yang mereka lalui. Rasa suka itu makin terus berkembang dari hari ke hari. Dia baru merasakan ketertarikan kepada Gabrilla ketika suatu malam dia mengajak Gabriella ke pesta pernikahan teman kuliahnya. Waktu itu Gabriella menggunakan mini dress, gaun berwarna hitam yang sederhana dengan belahan rendah.
Gaun itu begitu pas dipakai oleh Gabriella sehingga setiap lekuk tubuhnya terlihat menggoda, terlebih payudara Gabriella yang mengundang kekaguman bahkan oleh kaumnya sendiri. Tubuh Gabriella laksana gitar spanyol, yang membuat setiap mata lelaki bakal meliriknya. Tidak dipungkiri itulah yang membuat getaran ketertarikan di hatinya. Kerinduan yang dirasakan pada Gabriella begitu besar yang terus makin bertambah dari hari ke hari, membuat Jaydan bagaikan tercekik
Selama di pesta, Jaydan harus menahan nafsu birahinya terhadapa Gabriella. Dia takut tatapan mata liarnya tertangkap ketika melihat belahan dada Gabriella yang begitu ranum dan menggoda. Dia takut nafsu birahinya akan membuat hubungan pertemanannya dengan Gabriella menjadi retak hanya karena nafsu liarnya semata. Di usianya yang ke dua puluh dua tahun, Jaydan sudah mengenal yang namanya sex.  Dia diperkenalkan sex oleh mantan pacarnya. Dan itu menjadi candu baginya. Dan sepengetahuan Jaydan bahwa Gabriella masih perawan, maka dari itu dia berusaha menahan nafsu liarnya.
Sejak Jaydan melihat Gabriella pada malam itu, Gabriella telah menjadi obyek khayalannya dalam menyalurkan nafsu seksualnya setiap kali dia tidak bisa tidur.
Jaydan mencium Gabriella secara intens. Ketika dia mencium Gabriella, tangannya menggerayangi tubuh Gabriella.  Tangannya membelai payudara Gabriella, sehingga membuat puncak payudara Gabriella menjadi tegang.
Jaydan meremas payudara Gabriella dari luar kemeja Gabriella. Jaydan membuka kancing kemeja Gabriella satu persatu hingga akhirnya keliatan payudara Gabriella yang masih terbalut bra hitam.
Lalu Jaydan membuka kaitan bra Gabriella, sehingga Jaydan bisa melihat dua gundukan payudara Gabriella yang besar dengan puncak payudara berwarna merah. Tangan Jaydan meremas lembut payudara Gabriella dan memainkan putingnya. Lenguhan demi lenguhan terdengar dari mulut Gabriella. 
Ciuman panas Jaydan turun ke leher Gabriella. Jaydan menciumi leher hingga telinga Gabriella. Sesekali Jaydan menjilati daun telinga Gabriella dan nampaknya nafsu Gabriella semakin menjadi-jadi. Jaydan tidak puas hanya menjilati daun telinga, dia pun memasukkan ujung lidahnya ke dalam lubang telinga Gabriella, sehingga Gabriella semakin menggelinjang tidak terkendali. Kemudian ciuman Jaydan turun ke payudara Gabriella. Jaydan menggagumi payudara Gabriella yang begitu indah, payudara yang nampak sempurna dihadapannya. Segara bergantian Jaydan mencium, menjilat dan mengulum payudara dan puncak payudaranya.
”Jaydan… Jay, aku sayang kamu," Gabriella mengerang. Jaydan bisa merasakan tangan Gabriella di kepalanya, jari Gabriella menyusup di antara rambutnya. 
Pagutan dan jilatan Jaydan seakan membakar setiap pori-pori Gabriella sehingga Gabriella merasa semakin panas membara, dia pun menekan kepala Jaydan semakin mendekat, sehingga kepala Jaydan terbenam dalam payudara Gabriella yang begitu kenyal.
Setelah bosan bermain dipayudaranya, secara perlahan Jaydan membuka rok Gabriella yang masih dipakai, sehingga nampaklah celana dalam (g-string) hitam Gabriella yang membalut pusat kewanitaannya. Jaydan sengaja tidak meminta g-string yang dipakai oleh Gabriella, dibuka karena Jaydan tidak mau terburu-buru. Akhirnya saat ini Gabriella hanya mengenakan g-string warna hitam. Kemudian Jaydan menciumi kedua pahanya secara bergantian sementara itu kedua tangan Jaydan berada dibokongnya dan meremas bokongnya tersebut dengan lembut. Ciuman Jaydan naik ke bawah perutnya. Jaydan ciumin dari luar celana dalam nya kemudian Jaydan buka belahan kakinya sehingga tepat diwajah Jaydan sekarang sudah ada bongkahan Kewanitaannya yang masih tertutup celana dalamnya yang berwarna hitam. 
".... Krrriiingggg...." 
Jaydan terkejut dan ternyata semua itu hanya mimpi, mimpi yang begitu terasa nyata tetapi harus buyar dikarenakan alarm dia berbunyi yang membangunkan dia dari tidurnya. Ya, dia masih menginginkan Gabriella walaupun Gabriella sedang menjalin hubungan dengan kakaknya, Frederick.
Ingatan akan mimpi tersebut harus berkecamuk dalam ingatannya, seakan tidak ingin dia melupakan walaupun satu momen sekalipun kebersamaannya bersama Gabriella. 
Sejenak kemudian, sebuah sentuhan halus dari tangan Gabriella di pundaknya membuyarkan lamunannya.
"Jay, maaf kamu jadi nunggu lama. Tadi dosennya kasih pengarahan dulu," ujar Gabriella yang tatapannya seolah meminta maaf kepada Jaydan yang telah menunggunya begitu lama. Jaydan tidak menyadari kalau Gabriella telah duduk disisinya.
“Oh, ngga apa-apa koq, La. Lalu dosennya bilang apa aja? ” Tanya Jaydan. Dari tempatnya, tercium wangi parfum Chanel’s Chanel No. 5. Aroma parfum yang dipakai oleh Gabriella sangat menggoda dan membuat kejantanan Jaydan mengeras. Jaydan berusaha menghiraukan wangi tersebut untuk meredakan kejantanannya yang mengeras.
"Biasa lah, dosen nya cuma memberi info bahwa aku diikutsertakan dalam program pertukaran mahasiswa selama setahun di Inggris. Dan nanti setelah selesai program tersebut, aku mempunyai dua pilihan yaitu tetap disana untuk lanjut Master atau kembali ke Jakarta," terang Gabriella.
"Maksudnya stay disana itu apa?" Tanya Jaydan.
"Jadi program itu merupakan pengganti sidang. Karena nanti begitu selesai program tersebut, kita diwajibkan buat tesis dan tesis tersebut yang menentukan kelulusan kita. Dan jika kita memilih tetap disana, maka kita tidak bisa ikut wisuda. Tetapi kita tetap mendapat ijazah kelulusan," ujar Gabriella.
“Mendapat ijazah kelulusan? Bagaimana caranya?” tanya Jaydan.
“Ya, nanti pihak kampus akan mengirimkan ijazah kita,” ujar Gabriella.
“Oh, begitu. Lalu kamu dapat Negara mana untuk pertukaran tersebut?. Dan kamu sesudah selesai program tersebut apakah akan menetap disana atau kamu akan kembali ke Jakarta? ” tanya Jaydan.
“Tadi dosennya bilang kalau negara yang aku tuju itu adalah Inggris. Aku pengennya menetap disana, tetapi ortu aku mungkin tidak setuju. Lihat nanti saja,"  ujar Gabriella.
"Oh iya, kita keasikan mengobrol sampai lupa kalau kita belum makan. Aku pesan lunch buat kamu dulu yah ?" tanya Jaydan.
"Boleh. Aku juga sudah lapar banget," ujar Gabriella.
"Ok, jadi kamu mau makan apa? Aku mau pesan nasi hainam karena tadi lihat ada yang jual nasi hainam, dan kelihatannya menarik. Apa kamu mau nasi hainam juga?  ," ujar Jaydan.
"Hm.. Boleh deh nasi hainam," ujar Gabriella.
"Ok, bentar ya, anak manis," ujar Jaydan yang kemudian memanggil pelayan untuk memesan menu. Jaydan memesan dua porsi nasi hainam, untuk dia dan Gabriella.
Selama menunggu pesanan mereka datang, mereka melanjutkan berbincang-bincang dan bercanda. Keakraban di antara mereka sudah semakin terlihat, bagi orang lain yang melihatnya pasti sudah menduga kalau mereka adalah sepasang kekasih yang sedang berpacaran.
Pelayan menyiapkan pesanan sesuai dengan yang mereka pesan yaitu dua jus jeruk dan dua nasi hainam. Lalu mereka menyantap makanan yang disediakan oleh pelayan tersebut. Setelah mereka selesai makan, mereka berjalan menuju parkiran mobil Jaydan. Jaydan membukakan pintu penumpang disebelahnya untuk Gabriella. Jaydan menyalakan mesin mobil, dan kemudian Jaydan mengantar Gabriella sampai rumahnya. Selama dalam perjalanan pulang, Gabriella lebih banyak diam di dalam mobil. Dan sewaktu Jaydan menanyakan beberapa hal, Gabriella hanya menjawab sepatah dua patah kata.
"Jay, thanks sudah anter aku pulang," ujar Gabriella sesampainya di depan rumahnya. Lalu Gabriella membuka pintu mobil, menuju rumahnya.
Setelah Gabriella benar-benar masuk kedalam rumah, barulah Jaydan meninggalkan rumah Gabriella menuju rumahnya.
Gabriella sengaja tidak menawarkan Jaydan untuk mampir masuk ke dalam rumahnya dulu, karena keadaan sudah agak malam saat itu, karena jalan yang mereka lalui tadi sangat macet karena adanya kecelakaan lalu lintas.

No comments:

Post a Comment