Rintik hujan yang mengguyur sejak malam tadi
menyisakan tetes-tetes air diatas dedaunan. Pun demikian dengan jalanan yang
terlihat masih basah. Jauh disana, terlihat aktivitas dari mahasiswa/i yang
memasuki gerbang kampus. Hari ini merupakan hari pertama setelah libur lebaran
di kampus.
Semilir
angin menerpa wajahnya. Seorang gadis memasuki halaman kampus, tempatnya
kuliah. Gadis itu
mengenakan kaos berwarna putih dengan rok jeans berwarna hitam, panjang rok
tersebut lima senti diatas lutut. Hati gadis itu sedang diliputi oleh kekesalan
kepada tunangannya. Hampir dua bulan, tunangan gadis ini tidak memberi kabar
sama sekali akan keberadaannya. Sehingga membuat gadis tersebut menjadi sedih,dan
khawatir.
Segala
usaha telah dilakukan oleh gadis ini seperti mencari ke rumahnya dan kantornya
kemudian juga menanyakan kepada teman-teman tunangannya. Tetapi semuanya itu
tidak ada hasilnya karena jawaban dari semuanya yaitu mereka tidak mengetahui
keberadaan sang tunangannya. Gadis tersebut berkenalan dengan tunangannya
karena tunangan gadis itu merupakan kakak dari teman baiknya dan selain itu
juga tempat tinggal mereka dekat. Mereka telah bertunangan selama satu tahun,
dan rencananya tahun depan mereka akan
menikah.
“Ella…
Gabriella,” teriak seorang pria yang memanggil gadis tersebut. Gadis tersebut
sempat tidak mendengar panggilan tersebut karena dia sibuk dengan pikirannya
sehingga membuat pria tersebut harus memanggil lagi.
“Jay,
maaf tadi aku ga dengar kamu panggil aku,” ujar Gabriella yang menghentikan
langkah kakinya dan menoleh kepada Jaydan setelah mendengar Jaydan berteriak
memanggil namanya untuk kesekian kali. Gabriella
mengenal Jaydan sudah lama. Jaydan Lucas Smith adalah adik kandung Frederick Matthew Smith, tunangannya, dan keduanya merupakan blasteran Inggris-China. Penampilan fisik mereka tidak banyak berbeda.Tubuh mereka sama-sama berdada bidang dan bertubuh
atletis selain itu mereka juga ganteng. Tinggi badanlah yang membedakan
keduanya, tinggi badan Jaydan yaitu seratus delapan puluh tujuh senti sedangkan
tinggi badan Frederick yaitu seratus delapan puluh senti.
Selain tinggi badan, gaya
rambut mereka juga berbeda. Gaya rambut Frederick model spike, sedangkan gaya rambut Jaydan model Taylor Lautner (pemeran Jacob Black di film Twilight Saga).
Gabriella,
Jaydan dan Frederick merupakan teman sepermainan semenjak Gabriella pindah dekat rumah mereka. Ya,
Frederick merupakan tunangannya. Diantara mereka bertiga, dia-lah yang paling
muda. Usianya beda empat tahun sama Frederick, sedangkan sama Jaydan usianya
beda dua tahun.
“Gabriella
Florence… lLah ini
anak malah bengong lagi,” kata Jaydan yang memanggil Gabriella dengan nama
lengkapnya sembari mengguncangkan bahunya.
“Oups…
Maaf, Jay. Kamu sudah dapat kabar dari Frederick?” tanya Gabriella kepada
Jaydan. Karena dia meminta supaya kalau Jaydan mendapat kabar dari Frederick
segera memberitahunya.
“Aku
belum dapat kabar dari Frederick. Aku pasti akan memberitahu kamu kalau aku
mendapat kabar dari Frederick. La, apa kamu ada acara hari sabtu besok?” tanya
Jaydan sambil jalan menyesesuaikan langkah kakinya dengan Gabriella.
“Hm…,”
ujar Gabriella. Yah, memang semenjak Frederick menghilang Jaydan lah yang
selalu mengajak dia keluar rumah walaupun dia rada malas keluar rumah.
“Aku
ada undangan di Hotel Mulia. Aku ingin kamu ikut dengan aku,” ujar Jaydan.
“Hmm…,”
“Ayolah.
Mungkin Frederick ada urusan yang urgent
banget kali, makanya dia sampai tidak sempat menghubungi kamu,”
“Ya….
Tapi dia sama sekali tidak pernah kaya begini. Yang tidak menghubungi aku sama
sekali,”
“Sudahlah,
lagian nanti kan dia juga balik lagi. Kamu mau menemani aku kan?” tanya Jaydan
penuh harap. Semoga
Gabriella
mau ikut, kata Jaydan dalam hati .
Semenjak Frederick menghilang tanpa kabar, dia melihat Gabriella telah banyak
berubah, lebih banyak murung,
tidak konsentrasi dan yang
terutama dia jadi lebih pendiam, jarang tersenyum. Padahal Jaydan menyukai
Gabriella karena salah satunya yaitu senyumannya. Senyum Gabriella cantik
sekali bahkan lebih cantik dari senyum Monalisa. Dia juga
melihat kalau Gabriella terlihat lebih kurus dibanding dua bulan lalu.
“Baiklah,
jam berapa kamu jemput aku?” ujar Gabriella.
“Jam
enam sore, aku jemput kamu. Kamu sekarang ada mata kuliah apa?”
“Calculus,”
“Aku
ikut masuk ke kelas kamu ya,” kata Jaydan begitu melihat bahwa mereka telah
sampai di kelas yang mau dituju oleh Gabriella.
Gabriella
melangkahkan kakinya memasuki kelas tersebut, dia tidak menjawab pertanyaan
Jaydan. Dia menaruh tasnya dibangku, kemudian disusul oleh Jaydan yang juga
melakukan hal yang sama dengannya.
Kemudian
mereka sama-sama diam, keduanya termenung dengan beribu
pikiran yang tidak menentu. Pikiran Gabriellan
tertuju ke tunangannya, sedangkan pikiran Jaydan mengkhawatirkan orang
disebelahnya. Tetapi itu tidak berlangsung lama, karena tidak lama kemudian
dosen masuk ke ruang kuliah dan mulai mengajar.
Selama
dosen menerangkan mata kuliah Calculus, Jaydan terus melirik Gabriella. Dia
sangat mengkhawatirkan Gabriella. Nun jauh disudut relung hatinya, dia sangat
menyayangi Gabriella. Dia tidak tahan melihat Gabriella terus menderita karena
Frederick. Bagi dia, kebahagiaan Gabriella lah yang terpenting.
Syukurlah
pikir Jaydan begitu melihat Gabriella sedang mencatat mata kuliah yang
diberikan oleh dosennya. Pikirannya melayang ke beberapa tahun lalu, ketika dia
baru pertama kalinya dia berkenalan dengan Gabriella, gadis manis yang berlesung pipit.
Ketika itu, orang tuanya memutuskan pindah rumah dari daerah Gunung Sahari ke
Kelapa Gading. Rumah orang tuannnya
dengan rumah orang tua Gabriella bersebelahan.
Selain
itu, sewaktu dia memasuki Sekolah Menengah Pertama, di sekolah inilah dia
mengenal Gabriella karena sama-sama terlibat dalam kegiatan OSIS. Sejak saat
itulah mereka berdua tidak terpisahkan. Sampai akhirnya, Gabriella menjalin hubungan dengan
Frederick, Jaydan tetap berteman baik dengan Gabriella.
“Ok,
Saudara/I sekalian, bulan depan sudah akan dimulai pertukaran mahasiswa/I ke
London. Dimana kalian yang sudah terpilih harus mengikuti pelajaran disana
selama setahun, sesudah setahun kalian akan kembali ke Jakarta dan menyusun thesis. Thesis kalian tersebut yang merupakan ukuran bagi nilai kelulusan kalian. Dan nama-nama yang saya
sebutkan nanti menghadap ke saya yaitu Daisy, Kevin, Gabriella, ” ujar Dosen
yang membuyarkan pikiran Jaydan.
Lalu dosen meninggalkan ruangan setelah pemberitahuan.
"Kamu mau ke ruangan Pak Andre ya? Tanya Jaydan
"Iya. Kamu kalau ada urusan, pulang aja. Nanti
aku bisa pulang sendiri koq," kata Gabriella
"Aku tungguin kamu di kantin selama kamu ke
ruangan Pak Andre. Take your time,"
kata Jaydan
"Ah kamu baik banget. Ok, Jay.
Thanks. Nanti kalau sudah selesai, aku langsung ke kantin. See you,” kata Gabriella.
Jaydan menuju ke kantin kampus untuk menunggu Gabriella yang sedang menemui dosennya. Setelah selesai urusannya yang berkaitan dengan dosen
tersebut, Gabriella berjalan keluar dari ruangan dosen menuju kantin kampus.



No comments:
Post a Comment